Selasa, 18 Agustus 2015

(9) KEKAYAAN DAN PENGARUH, NIKMAT KEHIDUPAN DUNIAWI



{وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ (31) أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (32) وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ (33) وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ (34) وَزُخْرُفًا وَإِنْ كُلُّ ذَلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ (35)} [الزخرف: 31 - 35]}

Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?(31) Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghi-dupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar seba-hagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.(32) Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.(33) Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.(34) Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (35) (Q.S. Az-Zukhruf: 31 s/d 35)

Ayat di atas diturunkan Allah SWT sehubungan dengan pernyataan Al-Walid bin Al-Mughirah yang merasa dirinya atau Ibnu Mas'ud As-Tsaqafi lebih pantas menjadi nabi daripada nabi Muhammad SAW. Ia berkata: ”jika memang benar yang diucapkan oleh Muhammad, niscaya Al-Quran ini diturunkan kepada-ku atau Ibnu Mas'ud As-Tsaqafi."

Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?

Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad SAW, karena menurut pemikiran mereka, seorang yang diutus menjadi rasul itu hendaklah seorang kaya raya dan berpengaruh. Lalu Allah SWT menolak pemikiran demikian.

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?

Kekayaan dan pengaruh adalah rahmat Allah yang mesti disyukuri dan dipergunakan menurut ketentuan yang telah ditetapkan Allah, jika seseorang diberi karunia kekayaan dan pengaruh, maka bukan berarti kepadanya dilimpahi segala karunia Allah, khususnya nikmat kerasulan dan kenabian.

Kerasulan dan kenabian adalah nikmat Allah yang diberikanNya kepada hamba pilihanNya... Sebagai karunia atau pemberian yang tidak dapat diusahakan mencarinya seperti mencari harta kekayaan dan pengaruh.

Orang yang menganggap bahwa kerasulan dan kenabian harus diberikan kepada orang yang kaya raya dan berpengaruh, pada hakikatnya adalah orang yang lupa diri dan lupa kepada Tuhannya sebagai pemberi rahmat.

Kami telah menentukan antara mereka peng-hidupan mereka dalam kehidupan dunia,

Jadi, kaya dan miskin, berpengaruh atau tidak berpengaruhnya seseorang dalam kehidupan berma-syarakat erat hubungannya dengan ketentuan (qadha dan qadhar) Allah, dan hanya sebagai permainan kehidupan dunia.

dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan seba-hagian yang lain.

Maka hendaklah manusia itu sadar akan dirinya sebagai hamba yang menerima karunia Allah. Orang yang berpengaruh janganlah meng-anggap orang lain sebagai manusia hina yang bisa diperlakukan dengan sesuka hati. Dan orang yang kaya jangan memperlakukan orang miskin sebagai manusia yang tidak berharga.

Sebaliknya janganlah menganggap harta kekayaan dan pengaruh dalam kehidupan dunia ini sebagai tujuan, sehingga berlomba-lomba mendapatkannya dengan melupakan rahmat Allah pada kehidupan akhirat yang kekal.

Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Oleh sebab itu, hendaklah kita beriman dan bertaqwa kepada Allah, dan meningkatkan amal shaleh sehingga diridhaiNya, serta dilimpahiNya rahmat kebahagiaan di akhirat kelak.

Selanjutnya Allah menerangkan kepada kita tentang harta kekayaan bisa membawa manusia kepada kekafiran, kalau yang bersangkutan tidak beriman dan bertaqwa.

Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.

Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka).

Melihat kemewahan yang sedemikian rupa, terjerumuslah ummat banyak ke jurang kekafiran, mengutuk nasib dan berkecil hati kepada Allah, seolah-olah yang demikian adalah kekal adanya, dan tidak ada lagi kematian.

Mereka tidak sadar bahwa tujuan hidupnya di dunia adalah untuk mengabdi kepada Allah, maka mereka menghabiskan waktu dan umurnya untuk sesuatu yang akan lenyap itu.

"Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia..."

Kesenangan sementara saja!

"dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Yaitu, orang-orang yang senantiasa memelihara diri dari segala perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT, dengan mengerjakan segala perintah dan meninggalkan laranganNya.

Semoga kita senantiasa dirahmati Allah dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepadaNya. Amin!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar