Sabtu, 08 Agustus 2015

(8) KEMEWAHAN DAN KEDURHAKAAN



{وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (34) وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (35) قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (36) وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ (37)} [سبأ: 34 - 37]
Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya". (34) Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. (35) Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapang-kan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".(36) Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerja-kan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebab-kan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).(37) (Saba' ayat 34 sd 37)

Melalui ayat ini Allah SWT menerangkan kepada kita penyakit rohani yang menyerang jiwa orang-orang yang hidup mewah di seluruh penjuru dunia yang angkuh dan sombong menghadapi dakwah yang disampaikan oleh para nabi dan rasul serta seluruh juru dakwah kepada mereka; baik mereka yang hidup pada masa lampau, maupun yang ada pada masa sekarang dan pada masa mendatang.

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya".

Orang-orang yang hidup mewah (golongan elite) disebabkan oleh kekayaan dan status sosial mereka yang tinggi di masyarakat, maka mereka berbuat sesuka hati, memperturutkan hawa nafsu, tanpa merasa takut akan akibat perbuatannya di dunia dan di akhirat.

Kedurhakaan dan penyelewengan hidup mereka ini diperingatkan oleh Rasul atau juru dakwah, agar mereka berhenti berbuat semena-mena, bertaubat kepada Allah, dan agar mereka takut kepada siksaan Allah SWT di hari akhir.

Seruan Rasul atau juru dakwah ini mereka ingkari, lalu mereka menghina pribadi juru dakwah.

"Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu)."

Jadi mereka melihat juru dakwah hidup dalam kesederhanaan dan serba kekurangan, (karena akhirat itu lebih penting baginya daripada dunia), maka jika terjadi sesuatu hal di dunia ini; menurut orang-orang yang hidup mewah ini, tidaklah ada harta, anak-anak dan keluarga yang dapat membeking si juru dakwah. Sedangkan mereka merasa bisa berbuat sesuka hati, karena dibeking oleh harta kekayaan dan keluarga mereka, maka terbebaslah mereka dari hukuman penyelewengan yang mereka lakukan di dunia ini. Dengan demikian mereka melecehkan peringatan yang disampaikan juru dakwah.

"dan kami sekali-kali tidak akan diazab."

Pola pikir dan sikap hidup yang mereka nyatakan ini tidak benar, maka Allah memerintah-kan kepada Rasul dan kepada juru dakwah:

"Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapang-kan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya)."

Soal rezeki adalah kehendak Allah. Manusia hanya disuruh berusaha, ketentuan ada pada Allah. Kalau bisalah manusia, menentukan nasibnya sendiri tanpa terikat dengan ketentuan (qadar) Ilahi, maka tidak ada seorangpun manusia yang miskin, karena pada dasarnya miskin itu adalah musuh bersama ummat manusia. Tetapi kaya atau miskin bukanlah ukuran mulia hinanya seseorang di sisi Allah, karena harta kekayaan itu hanyalah sebagai ujian Allah buat manusia juga.

"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Orang-orang yang hidup mewah, angkuh dan sombong tadi menganggap nikmat yang besar yang mereka terima sebagai tanda bahwa Tuhan sayang kepada mereka dan mereka tidak akan diazab di akhirat.

"Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun..."

Anggapan itu adalah keliru besar!

"tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan..."

Jadi nilai manusia di sisi Allah sangat tergantung kepada keimanan dan amal shaleh yang dikerjakan-nya.

Iman yang bersih dari kesyirikan dan amal kebajikan yang dikerjakan karena mematuhi perintah Allah; bukan karena mengharapkan penilaian dan pujian dari manusia belaka, itulah yang mengantarkan seseorang ke tujuan terakhir di sorga.

"dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)."

Mereka hidup kekal selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar